Rabu, 01 Oktober 2014

Tawassul pada Rasulallah saw. dikala wafatnya

Untuk lebih mantepnya para pembaca, marilah kita rujuk lagi riwayat hadits tentang tawassul pada Nabi saw. waktu beliau saw. telah wafat, yang mana sampai sekarang baik oleh ulama maupun orang awam juga diamalkannya.
At-Thabarani meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan suatu peristiwa yang terjadi pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra. :
"Suatu hari seseorang yang sangat membutuhkan bantuan datang pada khalifah Utsman, tetapi karena sesuatu sebab khalifah ini tidak menghiraukan dan membantunya. Beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut kepada Utsman bin Hunaif dan menceriterakan perbuatan khalifah Utsman tersebut. Kepada orang ini Utsman bin Hunaif berkata:'Ambillah air wudu dan shalatlah dua rakaat di masjid kemudian berdo'alah: 'Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dan menghadapkan diriku kepada-Mu dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad saw., nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad Rasulallah, dengan bertawassul kepadamu aku menghadapkan diri dan mohon kepada Tuhanmu'. Kemudian terangkan/utarakan apa hajatmu.
Setelah orang itu mengamalkan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif ia pergi lagi kerumah kediaman Khalifah Utsman. Oleh penjaga pintu ia digandeng dan dipertemukan dengan khalifah yang mempersilahkan duduk diatas hamparan permadani. Khalifah Utsman menanyakan maksud kedatangannya. Setelah orang itu menguraikan kebutuhannya, khalifah dengan ramah memberikan bantuan yang dimintanya. Bahkan dengan lemah lembut khalifah berkata : 'Kenapa baru sekarang engkau datang ? Bila sewaktu-waktu membutuhkan bantuan segeralah datang kepadaku'.
Orang tersebut kemudian meninggalkan tempat dan langsung menuju kerumah Utsman bin Hunaif untuk menyatakan rasa terima kasihnya dan katanya : 'Semoga Allah membalas kebaikan anda..'. Dan katanya lagi pada Utsman bin Hunaif ini : 'Setelah anda mengatakan persoalanku pada khalifah Utsman ternyata beliau bersikap baik kepadaku'. Utsman bin Hunaif menjawab : 'Demi Allah aku tidak pernah membicarakan persoalanmu dengan khalifah Utsman'. Kemudian Utsman bin Hunaif ini menceriterakan kepadanya kejadian yang disaksikan sendiri ketika ia melihat seorang buta datang pada Rasulallah saw.
 Al-Mundziri (At-Targhib jilid 1/44dan Majma'uz Zawaid jilid 11/279) mengatakan hadits diatas ini shahih begitupun juga Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan At-Thabarani diatas ini berasal dari Abu Ja'far yang nama aslinya Umar bin Yazid, seorang perawi hadits yang dapat dipercaya. Abu Abdullah al-Maqdisi mengatakan bahwa hadits itu shahih. Juga Al-Hafidz Nuruddin Al-Haitsami membenarkan hadits itu.
Lihat hadits diatas ini contoh yang cukup jelas seorang yang diajari oleh Ustman bin Hunaif agar urusannya dimudahkan oleh Allah swt. dengan berdo'a dan tawassul kepada Rasulallah saw. sambil menyertakan dalam do'anya itu nama Rasulallah saw. dan memanggil beliau saw. Pada waktu itu tidak ada satupun sahabat yang memprotes. Bila hal tersebut dilarang/diharamkan dalam agama Islam atau berbau syirik maka tidak mungkin akan diamalkan oleh sahabat Nabi Utsman bin Hunaif ini.
Hadits pertama yang meriwayatkan bahwa Utsman bin Hunaif menyaksikan sendiri peristiwa seorang buta yang mengeluh pada Rasulallah saw..Kemudian Rasulallah saw. menyuruh seorang tuna netra untuk wudu' dan sholat dua raka'at. Setelah sholat seorang buta itu berdo'a pada Allah swt. sambil menyertakan nama Nabi saw. dalam do'anya itu. Bila hal ini berbau syirik tidak mungkin Rasulallah saw. memerintahkan atau mengajari orang ini untuk berdo'a sambil tawassul. Beliau saw. adalah contoh dari ummatnya semua perbuatan yang beliau lakukan bakal ada ummatnya yang meniru dan beliau saw. tidak akan dan tidak pernah menyuruh ummatnya untuk melakukan sesuatu yang keluar dari akidah syariat Islam !!
Sedangkan hadits yang terakhir diatas Utsman bin Hunaif atas prakarsanya sendiri mengamalkan cara berdo'a yang diajarkan Rasulallah saw. pada orang buta tersebut. Peristiwa terakhir ini terjadi setelah wafat Rasulallah saw. pada zamannya khalifah ketiga.
 Sebuah hadits yang diriwayatkan secara berangkai dari Abu Nu'man dari Sa'id bin Zaid, dari 'Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul Jauza bin 'Abdullah yang mengatakan sebagai berikut : Ketika kota Madinah dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh kepada isteri Rasulallah saw. 'Aisyah ra. Kepada mereka 'Aisyah berkata : 'Datanglah kemakam Nabi saw. dan bukalah atapnya agar antara makam beliau dan langit tidak terhalang apapun juga'. Setelah mengerjakan saran "Aisyah ra.itu turunlah hujan hingga rerumputan pun tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk (ini menggambarkan betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi subur kembali). (Kitab Sunan Ad-Daramy jilid 1/43)
 Hadits lainnya yang semakna dengan hadits terakhir diatas ini tentang tawassul pada Rasulallah saw. dimuka makam beliau yaitu yang diketengahkan oleh Al-Hafidz Abubakar Al-Baihaqy. Hadits itu diriwayatkan secara berangkai oleh para perawi : Abu Nashar, Ibnu Qatadah dan Abubakar Al-Farisy dari Abu 'Umar bin Mathar, dari Ibrahim bin 'Ali Adz-Dzihly, dari Yahya bin Yahya dari Abu Mu'awiyah, dari A'masy bin Abu Shalih dan dari Malik bin Anas yang mengatakan sebagai berikut :
"Pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. terjadi musim kemarau amat gersang. Seorang datang kemakam Rasulallah saw. kemudian berkata: 'Ya Rasulallah, mohonkanlah hujan kepada Allah bagi ummat anda. Mereka banyak yang telah binasa'. Pada malam harinya orang itu mimpi didatangi Rasulallah saw. dan berkata kepadanya : 'Datanglah engkau kepada 'Umar dan sampaikan salamku kepadanya. Beritahukan dia bahwa mereka akan memperoleh hujan. Katakan juga kepadanya : 'Engkau harus bijaksana...bijaksana' ! Orang itu lalu segera menyampaikan berita mimpinya kepada Khalifah 'Umar. Ketika itu 'Umar berkata : 'Ya Rabb (Ya Tuhanku), mereka mohon pertolongan-Mu karena aku memang tidak dapat berbuat sesuatu' ".
Hadits ini isnadnya shohih. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid 1/91 mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 18 H. Ibnu Abi Syaibah juga mengetengahkan hadits itu dengan isnad shohih dari riwayat Abu Shalih As-Saman yang berasal dari Malik ad-Dariy, seorang bendaharawan (Khazin) pada zaman Khalifah Umar. Menurut Saif dalam kitabnya Al-Futuh orang yang mimpi didatangi Rasulallah saw. itu ialah sahabat Nabi saw. yang bernama Bilal bin Al-Harits Al-Muzny. Dalam kitab Fathul Bari jilid 11/415 Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut isnadnya shohih.
Para imam ahli hadits yang mengetengahkan hadits tersebut dan para imam berikutnya yang mengutip hadits itu dalam berbagai kitab yang mereka tulis, tidak ada seorangpun diantara mereka ini yang mengatakan bahwa tawassul dengan makam Rasulallah saw. itu perbuatan kufur, sesat atau syirik. Dan juga tidak ada diantara mereka itu yang mengatakan hadits tersebut Palsu. Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalany sendiri turut mengetengahkan dan membenarkan hadits tersebut. Mengenai kedalaman ilmu, keutamaan perangai para imam yang mengetengahkan hadits tersebut telah dikenal semua ulama tidak perlu keterangan yang lebih jauh.
Hadits ini juga jelas sebagai dalil tawassul kepada Rasulallah setelah wafatnya, sahabat Nabi saw. ini bukan hanya berziarah saja kepada beliau saw., tapi sambil mohon kepada Rasulallah saw. agar beliau saw. berdo'a kepada Ilahi untuk menurunkan hujan.
 Syeikh Abu Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya Al Hikayatul Masyhurah mengemukakan kisah peristiwa yang diceriterakan oleh Al-'Utbah sebagai berikut :
"Pada suatu hari ketika aku (Al-'Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan makam beliau itu ia berkata : As-Salamu'alaika ya Rasulallah. Aku mengetahui bahwa Allah telah berfirman :' Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad), kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa'atmu, ya Rasulallah...." Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa saat kemudian aku (Al-'Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku : 'Hai 'Utbah, susullah segera orang Badui itu dan beritahukan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya'.
Peristiwa diatas ini dikemukakan juga oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah bab 4 hal.498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengenai ayat An-Nisa : 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengahkan peristiwa Al-'Utbah ini ialah : Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Al-Mughny jilid 3/556 ; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Asy-Syarhul-Kabir jilid 3/495 ; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab Hambali) jilid 5/30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5/265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.
 Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Siti Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam 'Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda :
"Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan haq Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan haq para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang".
Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-'Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhumaa memasukkan jenazah Siti Fathimah binti Asad kedalam lahad. Hadits ini diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.
Pada hadits ini Rasulallah saw. bertawassul disamping pada diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits ini jelas beliau saw. berdo'a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do'anya bi haqqi diri beliau sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do'anya menyertakan kata-kata dengan haq para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo'a saja tanpa diringi kata-kata dengan haq...para Nabi lainnya ?
 Dalam kitab Majma'uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.
Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu 'Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu 'Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu'aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memperkuat kebenarannya.
 Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw.. Al-Haitsam bin Khanas meriwayatkan kesaksiannya sendiri sebagai berikut :
"Ketika aku datang kepada 'Abdullah bin Umar ra.kulihat ada seorang yang menderita kejang kaki (kaku hingga tidak dapat berjalan). 'Abdullah bin Umar berkata kepadanya : 'Sebutlah orang yang paling kau cintai !'. Orang yang kejang itu berseru : 'Ya Muhammad !' Saat itu juga aku melihat ia langsung dapat berjalan seperti orang yang terlepas dari belenggu ".
 Mujahid juga meriwayatkan hadits dari "Abdullah bin 'Abbas sebagai berikut :
"Seorang yang menderita penyakit kejang kaki datang kepada 'Abdullah bin 'Abbas ra. Kepadanya 'Abdullah bin 'Abbas berkata : 'Sebutlah orang yang paling kau cintai !' Orang itu lalu menyebut ; Muhammad saw.! Seketika itu juga lenyaplah penyakitnya ".
Ibnu Taimiyyah mengetengahkan riwayat ini dalam kitabnya Al-Kalimut-Thayyib bab 47 halaman 165.
Mari kita ikuti beberapa hadits berikut ini tentan minta tolong kepada hamba Allah :
 Sebuah riwayat dari 'Abdullah bin Abbas ra. mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda :
"Banyak Malaikat Allah dimuka bumi selain yang bertugas mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka mencatat setiap lembar daun yang jatuh dari batangnya. Karena itu jika seorang diantara kalian tersesat ditengah sahara (atau tempat lainnya), hendaklah ia berseru : 'Hai para hamba Allah tolonglah aku!' " (HR.At-Thabrani dengan para perawi yang terpercaya).
 'Abdullah bin Mas'ud ra meriwayatkan, bahwa Rasulallah saw. pernah bersabda:
"Jika seorang diantara kalian ternak piaraannya terlepas ditengah sahara, hendaklah ia berseru : 'Hai para hamba Allah, tahanlah ternakku...hai para hamba Allah tahanlah ternakku !'. Karena sesungguhnya Allah mempunyai makhluk (selain manusia) dimuka bumi yang siap memberi pertolongan". (HR. Abu Ya'la dan At-Thabarani dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya, kecuali satu orang yang dipandang lemah yaitu Ma'ruf bin Hasan).
Imam Nuruddin 'Ali bin Abubakar Al-Haitsami juga mengetengahkan riwayat ini dalam Majma'uz-Zawaid Wa Manba'ul-Fuwa'id jilid X/132.
 'Utbah bin Ghazwan mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulallah saw. bersabda :
"Jika seorang dari kalian kehilangan sesuatu atau ia memerlukan bantuan, saat ia berada didaerah dimana ia tidak mempunyai kenalan, maka ucapkanlah ;'Hai para hamba Allah, tolonglah aku !' karena sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba (makhluk-makhluk ciptaan-Nya selain manusia) yang tidak kita lihat". Dan 'Utbah sendiri telah mencoba melaksanakan anjuran Rasulallah saw. ini.
Riwayat diatas ini diketengahkan oleh At-Thabarani dengan para perawi yang dapat dipercaya, kecuali Yazid bin 'Ali yang oleh At-Thabarani dipandang lemah, karena Yazid ini tidak hidup sezaman dengan 'Utbah. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang tidak penulis cantumkan disini.
Tiga hadits terakhir diatas ini juga menunjukkan permintaan tolong kepada hamba Allah yang tidak kelihatan (ghoib), tidak langsung minta tolong kepada Allah ?
Lihat kisah peristiwa-peristiwa tersebut telah dikemukakan juga oleh para ulama pakar, kita tidak perlu mempersoalkan apakah kisah ini benar atau tidak benar, kuat atau lemah, namun kenyataan membuktikan bahwa para ulama pakar tersebut diatas mencantumkan kisah ini dalam kitab-kitab mereka. Mungkinkah para ulama pakar ini mencantumkan sesuatu yang berbau kekufuran dan kesesatan atau kesyirikan ? Apakah mereka ini telah dituduh mempropaganda- kan penyembahan kepada hamba Allah atau kepada kuburan dan lain sebagai- nya? Apakah semua riwayat tawassul itu semuanya palsu, dikarang-karang oleh para perawinya?
Dengan satu dalil/riwayat yang shohih saja, sudah cukup sebagai dalil diperbolehkannya tawassul itu apalagi dengan banyaknya riwayat tentang masalah tersebut. Renungkanlah !