Untuk lebih mantepnya para pembaca, marilah kita rujuk lagi
riwayat hadits tentang tawassul pada Nabi saw. waktu beliau saw. telah wafat,
yang mana sampai sekarang baik oleh ulama maupun orang awam juga diamalkannya.
At-Thabarani meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan
suatu peristiwa yang terjadi pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra. :
"Suatu hari seseorang yang sangat membutuhkan bantuan
datang pada khalifah Utsman, tetapi karena sesuatu sebab khalifah ini tidak
menghiraukan dan membantunya. Beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut
kepada Utsman bin Hunaif dan menceriterakan perbuatan khalifah Utsman tersebut.
Kepada orang ini Utsman bin Hunaif berkata:'Ambillah air wudu dan shalatlah dua
rakaat di masjid kemudian berdo'alah: 'Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dan
menghadapkan diriku kepada-Mu dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad saw.,
nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad Rasulallah, dengan bertawassul kepadamu aku
menghadapkan diri dan mohon kepada Tuhanmu'. Kemudian terangkan/utarakan apa
hajatmu.
Setelah orang itu mengamalkan apa yang dikatakan oleh Utsman
bin Hunaif ia pergi lagi kerumah kediaman Khalifah Utsman. Oleh penjaga pintu
ia digandeng dan dipertemukan dengan khalifah yang mempersilahkan duduk diatas
hamparan permadani. Khalifah Utsman menanyakan maksud kedatangannya. Setelah
orang itu menguraikan kebutuhannya, khalifah dengan ramah memberikan bantuan
yang dimintanya. Bahkan dengan lemah lembut khalifah berkata : 'Kenapa baru
sekarang engkau datang ? Bila sewaktu-waktu membutuhkan bantuan segeralah
datang kepadaku'.
Orang tersebut kemudian meninggalkan tempat dan langsung
menuju kerumah Utsman bin Hunaif untuk menyatakan rasa terima kasihnya dan
katanya : 'Semoga Allah membalas kebaikan anda..'. Dan katanya lagi pada Utsman
bin Hunaif ini : 'Setelah anda mengatakan persoalanku pada khalifah Utsman
ternyata beliau bersikap baik kepadaku'. Utsman bin Hunaif menjawab : 'Demi
Allah aku tidak pernah membicarakan persoalanmu dengan khalifah Utsman'. Kemudian
Utsman bin Hunaif ini menceriterakan kepadanya kejadian yang disaksikan sendiri
ketika ia melihat seorang buta datang pada Rasulallah saw.
Al-Mundziri (At-Targhib jilid 1/44dan Majma'uz Zawaid
jilid 11/279) mengatakan hadits diatas ini shahih begitupun juga Ibnu Taimiyyah
yang mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan At-Thabarani diatas ini berasal
dari Abu Ja'far yang nama aslinya Umar bin Yazid, seorang perawi hadits yang
dapat dipercaya. Abu Abdullah al-Maqdisi mengatakan bahwa hadits itu shahih. Juga
Al-Hafidz Nuruddin Al-Haitsami membenarkan hadits itu.
Lihat hadits diatas ini contoh yang cukup jelas seorang yang
diajari oleh Ustman bin Hunaif agar urusannya dimudahkan oleh Allah swt. dengan
berdo'a dan tawassul kepada Rasulallah saw. sambil menyertakan dalam do'anya
itu nama Rasulallah saw. dan memanggil beliau saw. Pada waktu itu tidak ada
satupun sahabat yang memprotes. Bila hal tersebut dilarang/diharamkan dalam
agama Islam atau berbau syirik maka tidak mungkin akan diamalkan oleh sahabat
Nabi Utsman bin Hunaif ini.
Hadits pertama yang meriwayatkan bahwa Utsman bin Hunaif
menyaksikan sendiri peristiwa seorang buta yang mengeluh pada Rasulallah
saw..Kemudian Rasulallah saw. menyuruh seorang tuna netra untuk wudu' dan
sholat dua raka'at. Setelah sholat seorang buta itu berdo'a pada Allah swt.
sambil menyertakan nama Nabi saw. dalam do'anya itu. Bila hal ini berbau syirik
tidak mungkin Rasulallah saw. memerintahkan atau mengajari orang ini untuk
berdo'a sambil tawassul. Beliau saw. adalah contoh dari ummatnya semua
perbuatan yang beliau lakukan bakal ada ummatnya yang meniru dan beliau saw.
tidak akan dan tidak pernah menyuruh ummatnya untuk melakukan sesuatu yang
keluar dari akidah syariat Islam !!
Sedangkan hadits yang terakhir diatas Utsman bin Hunaif atas
prakarsanya sendiri mengamalkan cara berdo'a yang diajarkan Rasulallah saw.
pada orang buta tersebut. Peristiwa terakhir ini terjadi setelah wafat
Rasulallah saw. pada zamannya khalifah ketiga.
Sebuah hadits yang diriwayatkan secara berangkai dari
Abu Nu'man dari Sa'id bin Zaid, dari 'Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul
Jauza bin 'Abdullah yang mengatakan sebagai berikut : Ketika kota Madinah
dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh kepada isteri
Rasulallah saw. 'Aisyah ra. Kepada mereka 'Aisyah berkata : 'Datanglah kemakam
Nabi saw. dan bukalah atapnya agar antara makam beliau dan langit tidak
terhalang apapun juga'. Setelah mengerjakan saran "Aisyah ra.itu turunlah
hujan hingga rerumputan pun tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk (ini
menggambarkan betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi
subur kembali). (Kitab Sunan Ad-Daramy jilid 1/43)
Hadits lainnya yang semakna dengan hadits terakhir
diatas ini tentang tawassul pada Rasulallah saw. dimuka makam beliau yaitu yang
diketengahkan oleh Al-Hafidz Abubakar Al-Baihaqy. Hadits itu diriwayatkan
secara berangkai oleh para perawi : Abu Nashar, Ibnu Qatadah dan Abubakar
Al-Farisy dari Abu 'Umar bin Mathar, dari Ibrahim bin 'Ali Adz-Dzihly, dari
Yahya bin Yahya dari Abu Mu'awiyah, dari A'masy bin Abu Shalih dan dari Malik
bin Anas yang mengatakan sebagai berikut :
"Pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. terjadi
musim kemarau amat gersang. Seorang datang kemakam Rasulallah saw. kemudian
berkata: 'Ya Rasulallah, mohonkanlah hujan kepada Allah bagi ummat anda. Mereka
banyak yang telah binasa'. Pada malam harinya orang itu mimpi didatangi
Rasulallah saw. dan berkata kepadanya : 'Datanglah engkau kepada 'Umar dan
sampaikan salamku kepadanya. Beritahukan dia bahwa mereka akan memperoleh
hujan. Katakan juga kepadanya : 'Engkau harus bijaksana...bijaksana' ! Orang
itu lalu segera menyampaikan berita mimpinya kepada Khalifah 'Umar. Ketika itu
'Umar berkata : 'Ya Rabb (Ya Tuhanku), mereka mohon pertolongan-Mu karena aku
memang tidak dapat berbuat sesuatu' ".
Hadits ini isnadnya shohih. Demikian juga yang dikatakan oleh
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid 1/91 mengenai
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 18 H. Ibnu Abi Syaibah juga
mengetengahkan hadits itu dengan isnad shohih dari riwayat Abu Shalih As-Saman
yang berasal dari Malik ad-Dariy, seorang bendaharawan (Khazin) pada zaman
Khalifah Umar. Menurut Saif dalam kitabnya Al-Futuh orang yang mimpi didatangi
Rasulallah saw. itu ialah sahabat Nabi saw. yang bernama Bilal bin Al-Harits
Al-Muzny. Dalam kitab Fathul Bari jilid 11/415 Ibnu Hajar mengatakan bahwa
hadits tersebut isnadnya shohih.
Para imam ahli hadits yang mengetengahkan hadits tersebut dan
para imam berikutnya yang mengutip hadits itu dalam berbagai kitab yang mereka
tulis, tidak ada seorangpun diantara mereka ini yang mengatakan bahwa tawassul
dengan makam Rasulallah saw. itu perbuatan kufur, sesat atau syirik. Dan juga
tidak ada diantara mereka itu yang mengatakan hadits tersebut Palsu. Imam Ibnu
Hajar Al-'Asqalany sendiri turut mengetengahkan dan membenarkan hadits
tersebut. Mengenai kedalaman ilmu, keutamaan perangai para imam yang
mengetengahkan hadits tersebut telah dikenal semua ulama tidak perlu keterangan
yang lebih jauh.
Hadits ini juga jelas sebagai dalil tawassul kepada
Rasulallah setelah wafatnya, sahabat Nabi saw. ini bukan hanya berziarah saja
kepada beliau saw., tapi sambil mohon kepada Rasulallah saw. agar beliau saw.
berdo'a kepada Ilahi untuk menurunkan hujan.
Syeikh Abu Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya Al
Hikayatul Masyhurah mengemukakan kisah peristiwa yang diceriterakan oleh
Al-'Utbah sebagai berikut :
"Pada suatu hari ketika aku (Al-'Utbah) sedang duduk
bersimpuh dekat makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui.
Didepan makam beliau itu ia berkata : As-Salamu'alaika ya Rasulallah. Aku
mengetahui bahwa Allah telah berfirman :' Sesungguhnya jika mereka ketika
berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai
Muhammad), kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun
bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah untuk
mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa'atmu, ya
Rasulallah...." Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa
saat kemudian aku (Al-'Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku
bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku : 'Hai 'Utbah, susullah
segera orang Badui itu dan beritahukan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni
dosa-dosanya'.
Peristiwa diatas ini dikemukakan juga oleh Imam Nawawi dalam
kitabnya Al-Idhah bab 4 hal.498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam
Tafsirnya mengenai ayat An-Nisa : 64. Para ulama pakar lainnya yang
mengetengahkan peristiwa Al-'Utbah ini ialah : Syeikh Abu Muhammad Ibnu
Qaddamah dalam kitabnya Al-Mughny jilid 3/556 ; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah
dalam kitabnya Asy-Syarhul-Kabir jilid 3/495 ; Syeikh Manshur bin Yunus
Al-Bahuty dalam kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan
madzhab Hambali) jilid 5/30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi jilid
5/265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.
Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan
para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits
dari Anas bin Malik, ketika Siti Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda
Imam 'Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali
liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk
kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda :
"Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah
yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu,
karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya,
lapangkanlah kuburnya dengan haq Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan haq
para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang".
Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah
itu beliau saw. bersama-sama Al-'Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhumaa
memasukkan jenazah Siti Fathimah binti Asad kedalam lahad. Hadits ini
diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.
Pada hadits ini Rasulallah saw. bertawassul disamping pada
diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits ini
jelas beliau saw. berdo'a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do'anya bi
haqqi diri beliau sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan
dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do'anya menyertakan
kata-kata dengan haq para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo'a saja tanpa
diringi kata-kata dengan haq...para Nabi lainnya ?
Dalam kitab Majma'uz-Zawaid jilid 9/257 disebut
nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan
Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi
hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani
didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban,
Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.
Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang
meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu 'Abdul Birr
meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu 'Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya
dari Abu Nu'aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang
saling memperkuat kebenarannya.
Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw..
Al-Haitsam bin Khanas meriwayatkan kesaksiannya sendiri sebagai berikut :
"Ketika aku datang kepada 'Abdullah bin Umar ra.kulihat
ada seorang yang menderita kejang kaki (kaku hingga tidak dapat berjalan).
'Abdullah bin Umar berkata kepadanya : 'Sebutlah orang yang paling kau cintai !'.
Orang yang kejang itu berseru : 'Ya Muhammad !' Saat itu juga aku melihat ia
langsung dapat berjalan seperti orang yang terlepas dari belenggu ".
Mujahid juga meriwayatkan hadits dari "Abdullah
bin 'Abbas sebagai berikut :
"Seorang yang menderita penyakit kejang kaki datang
kepada 'Abdullah bin 'Abbas ra. Kepadanya 'Abdullah bin 'Abbas berkata :
'Sebutlah orang yang paling kau cintai !' Orang itu lalu menyebut ; Muhammad
saw.! Seketika itu juga lenyaplah penyakitnya ".
Ibnu Taimiyyah mengetengahkan riwayat ini dalam kitabnya
Al-Kalimut-Thayyib bab 47 halaman 165.
Mari kita ikuti beberapa hadits berikut ini tentan minta
tolong kepada hamba Allah :
Sebuah riwayat dari 'Abdullah bin Abbas ra. mengatakan
bahwa Rasulallah saw. bersabda :
"Banyak Malaikat Allah dimuka bumi selain yang bertugas
mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka mencatat setiap lembar daun yang jatuh
dari batangnya. Karena itu jika seorang diantara kalian tersesat ditengah
sahara (atau tempat lainnya), hendaklah ia berseru : 'Hai para hamba Allah
tolonglah aku!' " (HR.At-Thabrani dengan para perawi yang terpercaya).
'Abdullah bin Mas'ud ra meriwayatkan, bahwa Rasulallah
saw. pernah bersabda:
"Jika seorang diantara kalian ternak piaraannya terlepas
ditengah sahara, hendaklah ia berseru : 'Hai para hamba Allah, tahanlah
ternakku...hai para hamba Allah tahanlah ternakku !'. Karena sesungguhnya Allah
mempunyai makhluk (selain manusia) dimuka bumi yang siap memberi
pertolongan". (HR. Abu Ya'la dan At-Thabarani dengan perawi-perawi yang
dapat dipercaya, kecuali satu orang yang dipandang lemah yaitu Ma'ruf bin
Hasan).
Imam Nuruddin 'Ali bin Abubakar Al-Haitsami juga
mengetengahkan riwayat ini dalam Majma'uz-Zawaid Wa Manba'ul-Fuwa'id jilid
X/132.
'Utbah bin Ghazwan mengatakan bahwa ia pernah mendengar
Rasulallah saw. bersabda :
"Jika seorang dari kalian kehilangan sesuatu atau ia
memerlukan bantuan, saat ia berada didaerah dimana ia tidak mempunyai kenalan,
maka ucapkanlah ;'Hai para hamba Allah, tolonglah aku !' karena sesungguhnya
Allah mempunyai hamba-hamba (makhluk-makhluk ciptaan-Nya selain manusia) yang
tidak kita lihat". Dan 'Utbah sendiri telah mencoba melaksanakan anjuran
Rasulallah saw. ini.
Riwayat diatas ini diketengahkan oleh At-Thabarani dengan
para perawi yang dapat dipercaya, kecuali Yazid bin 'Ali yang oleh At-Thabarani
dipandang lemah, karena Yazid ini tidak hidup sezaman dengan 'Utbah. Dan masih
banyak lagi riwayat-riwayat lain yang tidak penulis cantumkan disini.
Tiga hadits terakhir diatas ini juga menunjukkan permintaan
tolong kepada hamba Allah yang tidak kelihatan (ghoib), tidak langsung minta
tolong kepada Allah ?
Lihat kisah peristiwa-peristiwa tersebut telah dikemukakan
juga oleh para ulama pakar, kita tidak perlu mempersoalkan apakah kisah ini
benar atau tidak benar, kuat atau lemah, namun kenyataan membuktikan bahwa para
ulama pakar tersebut diatas mencantumkan kisah ini dalam kitab-kitab mereka.
Mungkinkah para ulama pakar ini mencantumkan sesuatu yang berbau kekufuran dan
kesesatan atau kesyirikan ? Apakah mereka ini telah dituduh mempropaganda- kan
penyembahan kepada hamba Allah atau kepada kuburan dan lain sebagai- nya?
Apakah semua riwayat tawassul itu semuanya palsu, dikarang-karang oleh para
perawinya?
Dengan satu dalil/riwayat yang shohih saja, sudah cukup
sebagai dalil diperbolehkannya tawassul itu apalagi dengan banyaknya riwayat
tentang masalah tersebut. Renungkanlah !